Ekonomi

Kaltim Pacu Swasembada Pangan, Mampukah 15 Ribu Hektare Sawah Baru, Mengubah Peta Ketahanan Pangan?

2 minggu yang lalu 95 views
Gambar Kaltim Pacu Swasembada Pangan, Mampukah 15 Ribu Hektare Sawah Baru, Mengubah Peta Ketahanan Pangan? - kaltim kejar ...

SAMARINDA – Di tengah dominasi sektor pertambangan dan migas sebagai penggerak utama ekonomi daerah, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) mulai mempercepat transformasi menuju penguatan sektor pangan. Target yang dipasang tidak tanggung-tanggung, yakni mencapai swasembada pangan 100 persen pada akhir 2026 melalui penambahan sekitar 15 ribu hektare lahan sawah kaltim kejar swasembada pangan lewat.

Strategi tersebut akan ditempuh melalui dua pendekatan, yaitu revitalisasi lahan pertanian yang belum produktif serta program cetak sawah baru di sejumlah kawasan potensial kaltim kejar swasembada pangan lewat.

Langkah ini dinilai menjadi salah satu agenda strategis daerah di tengah meningkatnya kebutuhan pangan akibat pertumbuhan penduduk, pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), serta perubahan pola konsumsi masyarakat.

Baca Juga

Rekomendasi

Wakil Gubernur: Progres Swasembada Pangan Sudah Capai Lebih dari 60 Persen

Komitmen Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur untuk mempercepat swasembada pangan juga ditegaskan oleh Wakil Gubernur Kalimantan Timur, Seno Aji. Menurutnya, pemerintah daerah terus melakukan evaluasi dan koordinasi lintas instansi guna memastikan target yang telah ditetapkan dapat tercapai sesuai jadwal.

Seno Aji mengatakan, hingga saat ini Pemprov Kaltim telah tiga kali menggelar rapat koordinasi khusus membahas percepatan program swasembada pangan. Forum tersebut melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk perangkat daerah terkait, pemerintah kabupaten dan kota, serta instansi teknis yang menangani sektor pertanian.

"Hingga saat ini progres swasembada pangan sudah mencapai enam puluh sekian persen. Kami optimistis target yang telah ditetapkan dapat tercapai pada akhir tahun," ujar Seno Aji.

Berita Terkait

Kategori Sama

Menurutnya, percepatan dilakukan melalui kombinasi program revitalisasi lahan pertanian yang sudah ada, pembukaan sawah baru, peningkatan produktivitas lahan, serta penguatan dukungan sarana dan prasarana pertanian.

Pemprov Kaltim juga terus melakukan pemetaan terhadap kawasan yang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi sentra produksi pangan baru. Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan produksi padi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasokan beras dari luar daerah.

Seno menambahkan, koordinasi dengan pemerintah pusat juga terus dilakukan agar program pengembangan pertanian di Kalimantan Timur selaras dengan kebijakan nasional dalam memperkuat ketahanan pangan, terutama di wilayah penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN).

Dengan progres yang telah melampaui 60 persen tersebut, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur menyatakan optimistis target swasembada pangan dapat diwujudkan sesuai rencana, sehingga daerah mampu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat secara lebih mandiri dan berkelanjutan.

Dari Lumbung Batubara Menuju Lumbung Pangan

Selama bertahun-tahun Kalimantan Timur dikenal sebagai salah satu daerah penghasil batubara terbesar di Indonesia. Namun, ketergantungan terhadap sektor ekstraktif juga membuat struktur ekonomi daerah rentan terhadap fluktuasi harga komoditas global.

Karena itu, penguatan sektor pertanian dipandang sebagai bagian dari strategi diversifikasi ekonomi sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa produksi padi di Kalimantan Timur dalam beberapa tahun terakhir masih belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan konsumsi masyarakat. Akibatnya, sebagian kebutuhan beras masih dipasok dari provinsi lain, terutama Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Kalimantan Selatan.

Kondisi tersebut membuat stabilitas pasokan pangan di Kaltim sangat dipengaruhi kelancaran distribusi antardaerah.

Sejalan dengan Program Nasional

Program pengembangan lahan sawah di Kalimantan Timur sejalan dengan kebijakan pemerintah pusat yang menjadikan ketahanan pangan sebagai salah satu prioritas pembangunan nasional.

Kementerian Pertanian dalam beberapa tahun terakhir mendorong optimalisasi lahan rawa, intensifikasi pertanian, modernisasi alat mesin pertanian, serta pengembangan kawasan pangan di luar Pulau Jawa untuk memperkuat cadangan beras nasional.

Kalimantan termasuk salah satu wilayah yang dipandang memiliki potensi besar karena masih tersedia lahan yang dapat dikembangkan dengan memperhatikan aspek lingkungan dan tata ruang.

Tantangan di Lapangan

Meski memiliki potensi luas, pengembangan sawah di Kalimantan menghadapi sejumlah tantangan.

Di antaranya adalah karakteristik tanah yang berbeda dengan wilayah sentra produksi di Pulau Jawa, kebutuhan investasi irigasi yang besar, perubahan fungsi lahan, serta keterbatasan regenerasi petani muda.

Selain itu, perubahan iklim juga menjadi faktor yang harus diperhitungkan karena dapat memengaruhi pola tanam, ketersediaan air, hingga produktivitas hasil panen.

Momentum Diversifikasi Ekonomi

Di tengah perlambatan sektor tambang akibat dinamika pasar global, penguatan sektor pertanian dapat menjadi salah satu penyangga ekonomi daerah.

Apabila target penambahan 15 ribu hektare sawah dapat direalisasikan dan diikuti peningkatan produktivitas, Kalimantan Timur berpeluang mengurangi ketergantungan terhadap pasokan beras dari luar daerah, memperkuat kesejahteraan petani, sekaligus mendukung kebutuhan pangan kawasan IKN.

Keberhasilan program tersebut pada akhirnya tidak hanya diukur dari luas lahan yang berhasil dibuka, tetapi juga dari kemampuan menghasilkan produksi yang berkelanjutan, meningkatkan pendapatan petani, dan memastikan masyarakat memperoleh akses terhadap pangan yang cukup, aman, dan terjangkau.