JAKARTA — Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau tidak hanya menguji kesiapan penerbangan dan aktivitas masyarakat Jakarta. Erupsi yang terjadi sejak awal September 2026 juga membuka pertanyaan yang lebih besar: seberapa siap Jakarta menghadapi gangguan bencana ketika kota ini bersiap menjadi salah satu pusat penyelenggaraan FIFA ASEAN Cup 2026?
Pertanyaan tersebut bukan untuk menyimpulkan bahwa turnamen sepak bola internasional itu akan terganggu. Hingga kini, belum ada dasar untuk menyatakan bahwa FIFA ASEAN Cup akan dibatalkan atau dipindahkan akibat erupsi Anak Krakatau. Namun, rangkaian kejadian beberapa hari terakhir memperlihatkan satu fakta penting: gangguan atmosferik di sekitar Selat Sunda dapat dengan cepat berubah menjadi persoalan transportasi, kesehatan, mobilitas, dan logistik Jakarta.
Pada 6 September, BMKG menyatakan sebaran abu vulkanik Anak Krakatau terpantau meliputi Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat hingga Bengkulu. Pemantauan bahkan dilakukan selama 24 jam karena abu vulkanik berdampak langsung terhadap atmosfer dan keselamatan penerbangan.
Dampaknya bukan sekadar langit yang tampak berkabut. Delapan bandara sempat mengalami penutupan sementara. Pada puncak gangguan, lebih dari 1.500 penerbangan terdampak dan sekitar 170.000 penumpang mengalami gangguan perjalanan. Soekarno-Hatta menjadi salah satu titik paling penting karena merupakan pintu utama kedatangan dan keberangkatan internasional.
Pada 8 September, kondisi mulai membaik. BMKG menyatakan sejumlah bandara telah kembali beroperasi setelah pemeriksaan menunjukkan tidak adanya abu vulkanik pada area yang diperiksa. Namun, perbaikan situasi bukan berarti risikonya otomatis berakhir. Gunung Anak Krakatau masih menunjukkan aktivitas dan perubahan arah angin dapat kembali menentukan ke mana material vulkanik bergerak.
Di sinilah persoalan FIFA ASEAN Cup Jakarta menjadi relevan.
Turnamen tersebut dijadwalkan berlangsung pada akhir September hingga awal Oktober 2026. Artinya, Jakarta memiliki waktu untuk melakukan evaluasi, tetapi tidak memiliki alasan untuk mengabaikan pengalaman September ini. Ketergantungan terhadap Bandara Soekarno-Hatta dan jaringan transportasi udara membuat kedatangan pemain, ofisial, perangkat pertandingan, media internasional dan suporter sangat sensitif terhadap gangguan penerbangan.
Sisipan: FIFA ASEAN Cup Jakarta dan abu vulkanik Anak Krakatau harus dibaca sebagai dua persoalan yang saling berkaitan dari sisi mitigasi, bukan sebagai bukti bahwa turnamen pasti terdampak.
Pertanyaan investigatifnya kemudian bergeser: apakah skenario kontingensi sudah disiapkan?
Bagaimana jika penerbangan internasional kembali terganggu ketika delegasi negara peserta tiba? Apakah tersedia rute alternatif yang realistis? Bagaimana koordinasi antara pemerintah daerah, operator bandara, maskapai, PSSI, panitia penyelenggara dan otoritas keselamatan penerbangan? Bagaimana prosedur jika kualitas udara memburuk di sekitar venue atau lokasi latihan?
Persoalan lain adalah kesehatan atlet.
Abu vulkanik mengandung partikel yang dapat mengganggu sistem pernapasan. Bagi atlet profesional yang membutuhkan kapasitas paru-paru optimal, kualitas udara bukan persoalan kecil. Karena itu, kesiapan penyelenggara seharusnya tidak hanya diukur dari kesiapan stadion, rumput lapangan, pencahayaan dan keamanan penonton, tetapi juga dari kemampuan melakukan pemantauan kualitas udara secara cepat dan mengambil keputusan berbasis data.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sendiri sebelumnya memperpanjang Pembelajaran Jarak Jauh hingga 8 September sebagai langkah kehati-hatian karena abu masih ditemukan di sejumlah wilayah meski kondisinya telah menurun signifikan.
Ini menjadi indikator penting.
Jika aktivitas pendidikan saja membutuhkan penyesuaian karena kualitas lingkungan, maka penyelenggaraan event internasional dengan ribuan orang tentu membutuhkan protokol yang lebih rinci.
Namun, ada satu hal yang juga harus ditegaskan. Tidak tepat menggunakan erupsi Anak Krakatau untuk menciptakan kepanikan seolah-olah Jakarta otomatis tidak layak menjadi tuan rumah. BMKG justru terus melakukan pemantauan, dan kondisi penerbangan mulai kembali normal setelah pemeriksaan keselamatan dilakukan.
Karena itu, isu sebenarnya bukan “apakah FIFA ASEAN Cup akan terganggu?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah “apakah Jakarta sudah memiliki rencana jika gangguan itu terjadi?”
Bagi Lensa Resonansi, erupsi Anak Krakatau seharusnya menjadi semacam stress test alami bagi sistem penyelenggaraan FIFA ASEAN Cup. Bukan untuk menakut-nakuti publik, melainkan untuk menguji apakah koordinasi antarlembaga benar-benar siap menghadapi kondisi di luar skenario normal.
Sebab dalam event olahraga internasional, keberhasilan bukan hanya ketika pertandingan berlangsung tanpa masalah. Keberhasilan sesungguhnya terlihat ketika masalah muncul—dan seluruh sistem mampu meresponsnya sebelum berubah menjadi krisis.
Jakarta masih memiliki waktu.
Yang kini dibutuhkan bukan kepanikan, melainkan kesiapsiagaan yang terukur, transparan, dan berbasis data.