Hampir sebulan berlalu, kondisi Febi Yona Purba, siswi SMK di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, yang diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), justru menjadi pertanyaan serius.
Keluarga menyebut Febi mengalami kejang, kesulitan berbicara hingga gangguan ingatan. Informasi mengeni kondisi tersebut juga muncul dalam pemberitaan sejumlah media dan unggahan keluarga. Namun, sampai ada pemeriksaan medis dan hasil investigasi yang dapat menjelaskan penyebabnya, kondisi neurologis tersebut belum dapat secara otomatis disimpulkan sebagai akibat langsung dari makanan MBG.
Di sinilah persoalannya menjadi jauh lebih serius.
Keracunan makanan memang sering dibayangkan sebagai persoalan sederhana: mual, muntah, diare, sakit perut dan kemudian sembuh. Pada banyak kasus, memang demikian. Tetapi penyakit bawaan makanan memiliki spektrum dampak yang jauh lebih luas.
WHO mencatat bahwa penyakit bawaan makanan tidak hanya dapat menyebabkan gangguan pencernaan akut. Dalam kondisi tertentu, penyakit tersebut dapat menyebabkan gagal ginjal, gangguan hati, gangguan otak dan saraf, bahkan kematian.
Artinya, keracunan makanan tidak selalu berhenti di lambung.
Ketika keracunan masuk ke wilayah saraf
Kejang, gangguan bicara dan perubahan kemampuan mengingat merupakan gejala yang berada di wilayah neurologis. Gejala semacam itu membutuhkan evaluasi medis tersendiri karena penyebabnya dapat beragam.
Beberapa penyakit bawaan makanan memang diketahui dapat menimbulkan komplikasi neurologis.
Misalnya, infeksi tertentu dapat menyebabkan komplikasi sistemik yang kemudian memengaruhi otak atau sistem saraf. WHO mencatat infeksi E. coli penghasil toksin Shiga dapat menyebabkan sindrom hemolitik uremik atau HUS. Dalam sebagian kasus HUS, komplikasi neurologis seperti kejang, stroke dan koma dapat terjadi.
Ada pula jenis keracunan makanan tertentu yang toksinnya memang menyerang sistem saraf. CDC menjelaskan bahwa penyakit bawaan makanan yang secara khusus menyerang sistem neurologis dapat menimbulkan gangguan sensorik, kelemahan hingga kelumpuhan.
Karena itu, ketika seorang korban setelah dugaan keracunan mengalami kejang atau gangguan bicara yang menetap, pertanyaannya tidak boleh berhenti pada “makanan apa yang dimakan?”
Pertanyaan berikutnya harus jauh lebih mendalam:
Apa zat atau mikroorganisme yang masuk ke tubuh korban? Apakah terjadi infeksi sistemik? Apakah terjadi gangguan metabolik akibat dehidrasi berat? Apakah ada komplikasi pada otak atau ginjal? Atau terdapat penyebab medis lain yang kebetulan muncul setelah kejadian tersebut?
Jawabannya membutuhkan pemeriksaan medis, bukan asumsi.
Mengapa kasus Febi penting bagi evaluasi MBG?
Kasus Febi memiliki nilai penting bukan hanya karena menyangkut satu korban.
Program MBG merupakan program berskala sangat besar. Ketika makanan diproduksi secara massal, kemudian dikirim dan dikonsumsi oleh banyak anak dalam waktu relatif bersamaan, maka standar keamanan pangan harus ditempatkan pada tingkat yang jauh lebih ketat dibandingkan konsumsi makanan rumah tangga biasa.
Pada September 2026, laporan Associated Press menyebut data Kementerian Kesehatan hingga 2 September mencatat lebih dari 50 ribu orang terdampak dalam 560 kejadian dugaan keracunan yang berkaitan dengan MBG sejak program dimulai. Dalam laporan yang sama, Badan Gizi Nasional menyebut sebagian besar kasus yang ditinjau berkaitan dengan kegagalan penerapan prosedur keamanan pangan, termasuk penyimpanan, penerimaan bahan, pengendalian suhu dan batas waktu konsumsi.
Angka tersebut semestinya tidak hanya dibaca sebagai statistik.
Di balik angka ada tubuh manusia. Ada anak yang muntah. Ada siswa yang harus dirawat. Ada keluarga yang kehilangan waktu bekerja karena mendampingi anaknya. Dan dalam kasus tertentu, muncul pertanyaan yang jauh lebih berat: bagaimana jika dampaknya tidak berhenti setelah korban keluar dari rumah sakit?
Satu korban dengan gejala neurologis harus menjadi alarm
Lensa Resonansi melihat kasus Febi sebagai momentum untuk menguji kembali mekanisme pertanggungjawaban dalam program MBG.
Bukan untuk menghakimi penyelenggara. Bukan pula untuk menyimpulkan bahwa gangguan ingatan atau kejang Febi pasti disebabkan oleh makanan MBG.
Tetapi justru karena belum ada kesimpulan final, kasus seperti ini harus diperiksa secara menyeluruh.
Jika dugaan keracunan terbukti, investigasi harus bergerak dari sekadar mencari siapa yang memasak makanan menuju pemeriksaan seluruh rantai keamanan pangan: bahan baku, proses memasak, kebersihan dapur, suhu penyimpanan, waktu distribusi, waktu konsumsi, sampel makanan, hasil laboratorium dan rekam medis korban.
Dugaan keracunan MBG harus dibuktikan secara ilmiah, sementara korban harus mendapatkan perhatian medis maksimal tanpa menunggu perdebatan administratif selesai.
Sebab, ukuran keberhasilan program makanan bergizi bukan hanya berapa juta porsi yang berhasil dibagikan.
Ukuran yang lebih mendasar adalah: apakah makanan tersebut benar-benar aman ketika sampai ke meja anak-anak?
Dan bila seorang korban masih mengalami gangguan kesehatan hampir sebulan kemudian, negara tidak cukup hanya menghitung jumlah kasus.
Negara harus memastikan apa yang sebenarnya terjadi.
Karena satu porsi makanan yang seharusnya menjadi simbol pemenuhan gizi tidak boleh berubah menjadi awal dari persoalan kesehatan yang lebih panjang.