Sosial Budaya

Jejak Konser Israel Houghton Sebelum Indonesia: “I Stand with Israel”

2 minggu yang lalu 785 views
Gambar Jejak Konser Israel Houghton Sebelum Indonesia: “I Stand with Israel” - Konser Israel Houghton

Lensa Resonansi - Keputusan pemerintah Indonesia tidak muncul dalam ruang kosong. Menteri Koordinator Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra menyebut salah satu pertimbangannya adalah adanya pengalaman pertunjukan Israel Houghton di sejumlah negara yang, menurut pemerintah, disertai pernyataan dukungan terhadap Israel. Pemerintah secara spesifik menyinggung ungkapan “I stand with Israel” yang disebut pernah disampaikan di sela pertunjukan Konser Israel Houghton.

Dengan demikian, pertanyaan pentingnya bukan sekadar “mengapa konser Israel Houghton dilarang?”, melainkan “apa yang terjadi pada konser-konser sebelumnya?”

1. Pernyataan dukungan terhadap Israel menjadi titik persoalan

Salah satu jejak yang menjadi perhatian adalah unggahan Israel Houghton pada 8 Oktober 2023, ketika ia menyampaikan pesan:

“I pray for the peace of Jerusalem. I stand with Israel.”

Pernyataan tersebut kemudian menjadi salah satu dasar munculnya keberatan terhadap rencana konsernya di Sabah, Malaysia. Polisi Sabah mengonfirmasi bahwa isu mengenai sikap Houghton terhadap Israel menjadi salah satu hal yang memicu reaksi masyarakat.

Berita Terkait

Kategori Sama

Namun, secara jurnalistik perlu dibuat pembedaan.

Pernyataan dukungan pribadi terhadap Israel tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa setiap konser Houghton merupakan kampanye politik Israel.

Inilah titik yang harus dijaga Lensa Resonansi agar pemberitaan tidak melompat dari sebuah pernyataan pribadi menjadi kesimpulan mengenai keseluruhan isi pertunjukan.

2. Kontroversi kemudian muncul di Malaysia

Jejak paling relevan menjelang rencana konser Indonesia justru terjadi di Sabah, Malaysia.

Israel & New Breed dijadwalkan menggelar rangkaian konser di Kota Kinabalu pada 22–25 Oktober 2026 sebagai bagian dari tur Till The Whole World Knows. Tetapi pada 28 September, Polisi Sabah menyatakan telah menerima dua laporan polisi terkait acara tersebut.

Menariknya, polisi menyatakan belum ada permohonan resmi dari penyelenggara kepada pemerintah negara bagian ketika kontroversi tersebut mencuat, meskipun tanggal, lokasi dan harga tiket telah dipublikasikan. Polisi kemudian mengatakan bahwa apabila permohonan resmi diajukan dan pandangan kepolisian diminta, mereka akan menyarankan agar konser ditunda berdasarkan sensitivitas masyarakat saat itu.

Jadi, kontroversi Malaysia sendiri juga belum identik dengan keputusan hukum final bahwa Houghton melakukan pelanggaran.

Polisi Sabah menyebut belum ada kertas penyiasatan yang dibuka pada saat itu dan posisinya adalah pemantauan serta pertimbangan ketenteraman awam.

3. Ada keberatan dari organisasi Islam Sabah

Pertentangan kemudian berkembang menjadi isu publik.

United Sabah Islamic Association (USIA) bersama sejumlah NGO Islam Sabah menyatakan keberatan terhadap konser tersebut. Mereka menegaskan bahwa keberatan mereka bukan terhadap agama atau ras, melainkan terhadap sikap publik Houghton mengenai Israel dan konflik Israel-Palestina.

Ini menjadi fakta penting karena menunjukkan bahwa kontroversi terhadap Houghton bukan baru muncul setelah pemerintah Indonesia mengambil keputusan.

Tetapi tetap ada batas yang harus diperhatikan:

keberatan masyarakat ≠ bukti bahwa konser tersebut pasti merupakan propaganda politik.

Dua hal tersebut harus dipisahkan.

4. Di Sabah muncul argumen yang berlawanan

Yang menarik, tidak semua tokoh Sabah mendukung penghentian konser.

Mantan Menteri Luar Malaysia Anifah Aman justru mempertanyakan keberatan tersebut. Ia mengakui Houghton pernah menyatakan dukungan terhadap Israel, tetapi mempertanyakan apakah sikap politik pribadi seseorang otomatis harus menjadi alasan untuk melarang penampilannya.

Anifah juga menekankan bahwa jika aparat dapat memastikan Houghton mematuhi hukum Malaysia dan tidak melakukan provokasi, aspek keamanan dapat dikelola melalui langkah-langkah pengamanan.

Pendapat serupa muncul dari anggota parlemen Kota Kinabalu Chan Foong Hin, yang menyatakan bahwa kebebasan beragama dan keamanan dapat berjalan bersamaan. Ia berpendapat kegiatan keagamaan yang sah seharusnya dapat berlangsung sepanjang penyelenggara mematuhi hukum dan persyaratan keamanan.

Fakta ini penting untuk dimasukkan karena memberikan perspektif pembanding terhadap alasan pemerintah Indonesia.

Lalu apa hubungannya dengan Indonesia?

Di sinilah kebijakan Indonesia menjadi menarik.

Yusril menyatakan pemerintah telah mempertimbangkan kontroversi di Malaysia serta pengalaman pertunjukan Houghton di luar negeri. Pemerintah Indonesia khawatir konser tersebut dapat menjadi ruang penyampaian pesan politik pro-Israel yang dianggap bertentangan dengan posisi politik luar negeri Indonesia terhadap Palestina.

Tetapi terdapat satu pertanyaan investigatif yang sangat penting:

Apakah pemerintah Indonesia memiliki bukti bahwa format konser Jakarta memang akan memuat pesan politik pro-Israel, atau keputusan tersebut terutama didasarkan pada rekam jejak pernyataan Houghton dalam konteks sebelumnya?

Pertanyaan ini penting karena pemerintah sendiri menyebut konser yang direncanakan di Jakarta belum mengantongi izin, bahkan belum ada pengajuan visa konser dari artis yang bersangkutan.

Dengan kata lain, pemerintah melakukan tindakan preventif berdasarkan potensi dan rekam jejak, bukan berdasarkan pelanggaran yang telah terjadi dalam konser Jakarta.

Ada satu fakta lain yang perlu diperiksa

Pemerintah Indonesia juga menyebut penyelenggara konser di Jakarta berkaitan dengan Banyak Bagus Entertainment yang berbasis di Kuala Lumpur, Malaysia. Yusril mengatakan pemerintah tidak menemukan sponsor kegiatan tersebut di Jakarta dan menyebut event organizer tersebut sebagai pihak yang terkait dengan penyelenggaraan. Fakta ini membuka pertanyaan lanjutan yang layak ditelusuri.

Kesimpulan 

Jejak konser sebelumnya memang memberikan konteks bagi keputusan pemerintah Indonesia, tetapi belum otomatis menjadi bukti bahwa konser Jakarta akan menjadi kampanye politik Israel.

Yang terkonfirmasi adalah Houghton pernah menyatakan dukungan terhadap Israel, isu tersebut memicu kontroversi di Sabah, dua laporan polisi dibuat, dan polisi Sabah mempertimbangkan sensitivitas serta ketertiban umum. Di sisi lain, sejumlah tokoh Sabah justru berpendapat bahwa persoalan keamanan dapat dikelola tanpa otomatis membatalkan kegiatan keagamaan tersebut.

Karena itu, pertanyaan paling tajam Lensa Resonansi bukan “apakah Israel Houghton pro-Israel?”—karena ada rekam jejak publik yang mendukung adanya pernyataan tersebut.

Pertanyaan yang lebih substantif adalah:

“Apakah rekam jejak pernyataan Israel Houghton cukup menjadi dasar untuk menyimpulkan bahwa konsernya di Indonesia akan berubah menjadi kampanye politik?”

Itulah celah antara fakta, kekhawatiran pemerintah, dan bukti konkret yang layak dibongkar lebih jauh.