Nasional

Eddy Soeparno Gandeng Akademisi UGM Bahas Ketahanan Energi, Transisi EBT hingga Dekarbonisasi Nasional

4 jam yang lalu 198 views
Gambar Eddy Soeparno Gandeng Akademisi UGM Bahas Ketahanan Energi, Transisi EBT hingga Dekarbonisasi Nasional - Eddy Soeparno

Yogyakarta – Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), Eddy Soeparno, menggelar High Level Dialogue bersama para guru besar dan akademisi dari Pusat Studi Energi Universitas Gadjah Mada (UGM). Forum tersebut menjadi wadah untuk menghimpun rekomendasi strategis dalam memperkuat ketahanan energi nasional, mempercepat transisi energi, serta mendorong dekarbonisasi Indonesia.

Dialog yang berlangsung di lingkungan UGM itu menghadirkan sejumlah pakar energi, teknologi, kebijakan publik, hingga pimpinan universitas guna membahas arah kebijakan energi Indonesia di tengah tuntutan pertumbuhan ekonomi dan komitmen pengurangan emisi karbon.

Ketahanan Energi Dinilai Sama Pentingnya dengan Ketahanan Nasional

Dalam forum tersebut, Eddy Soeparno menegaskan bahwa ketahanan energi tidak dapat dipisahkan dari ketahanan nasional. Menurutnya, negara yang tidak mampu menjamin pasokan energi akan menghadapi risiko terhadap stabilitas ekonomi, daya saing industri, hingga kedaulatan negara.

Baca Juga

Rekomendasi

"Forum ini memperkaya perspektif kita bahwa urgensi ketahanan energi adalah sama urgensinya dengan ketahanan nasional. Negara yang tidak mampu menjamin pasokan energinya akan menghadapi risiko terhadap stabilitas ekonomi, daya saing industri, bahkan kedaulatan nasional," ujar Eddy.

Ia menilai agenda transisi energi harus tetap berjalan seiring dengan target pertumbuhan ekonomi nasional agar pembangunan berkelanjutan dapat tercapai.

Akademisi UGM Beri Masukan Strategis

Dalam diskusi tersebut, para guru besar dan akademisi UGM menyampaikan berbagai rekomendasi, di antaranya:

Berita Terkait

Kategori Sama
  • Harmonisasi kebijakan energi nasional.
  • Percepatan pengembangan Energi Baru dan Terbarukan (EBT).
  • Penguatan riset dan inovasi teknologi energi.
  • Pembangunan infrastruktur energi nasional.
  • Reformasi regulasi sektor energi.
  • Pengembangan ekonomi karbon.
  • Penyediaan skema pembiayaan untuk menarik investasi hijau.

Menurut Eddy, kontribusi kalangan akademisi sangat penting agar kebijakan pemerintah disusun berdasarkan kajian ilmiah dan mampu menjawab tantangan jangka panjang.

Perguruan Tinggi Punya Peran Strategis

Eddy menilai perguruan tinggi memiliki posisi penting dalam mendukung transformasi sektor energi melalui riset, inovasi teknologi, serta penyediaan sumber daya manusia yang kompeten.

"Indonesia membutuhkan kebijakan energi yang berbasis ilmu pengetahuan. Karena itu, saya sangat mengapresiasi berbagai masukan dari para Guru Besar dan akademisi UGM yang memberikan perspektif komprehensif mengenai penguatan ketahanan energi, strategi percepatan transisi energi, hingga langkah konkret menuju dekarbonisasi nasional," katanya.

Indonesia Dinilai Berpeluang Jadi Pemimpin Energi Bersih

Dalam paparannya, Eddy menyebut Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi salah satu kekuatan energi bersih dunia apabila mampu memanfaatkan sumber daya yang dimiliki secara optimal.

Ia menyoroti sejumlah sektor yang dinilai memiliki prospek besar, seperti:

  • Bioenergi berbasis sawit dan biomassa.
  • Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) skala besar.
  • Percepatan elektrifikasi nasional.
  • Teknologi Carbon Capture and Storage (CCS).
  • Pemanfaatan energi nuklir sebagai pembangkit listrik rendah karbon dalam jangka panjang.

"Indonesia memiliki seluruh prasyarat untuk menjadi kekuatan energi bersih dunia. Yang kita perlukan sekarang adalah keberanian mengambil keputusan, konsistensi kebijakan, serta kolaborasi erat antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat," ujar Eddy.

Kolaborasi Jadi Kunci Transisi Energi

Eddy menegaskan bahwa percepatan transisi energi membutuhkan sinergi seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, dunia usaha, lembaga keuangan, perguruan tinggi, hingga masyarakat.

Menurutnya, kebijakan yang konsisten, dukungan investasi, penguasaan teknologi, dan kolaborasi lintas sektor menjadi faktor penting dalam mewujudkan ketahanan energi nasional sekaligus mendukung target dekarbonisasi Indonesia.

Forum tersebut turut dihadiri Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama UGM Prof. Danang Sri Hadmoko, Ketua Majelis Wali Amanat UGM Prof. Tumiran, Ketua Senat Akademik UGM Prof. Dr. Sulistiowati, Kepala Pusat Energi UGM Prof. Sarjiya, serta para guru besar dan akademisi dari berbagai disiplin ilmu.