Politik

Prabowo Sebut Antek Asing Bisa Bayar Buzzer: Siapa yang Dimaksud?

1 jam yang lalu 259 views
Gambar Prabowo Sebut Antek Asing Bisa Bayar Buzzer: Siapa yang Dimaksud? - antek asing

Lensa Resonansi, Ponorogo — Presiden Prabowo Subianto mengingatkan generasi muda, khususnya para santri, agar semakin bijak menyikapi berbagai informasi yang beredar di media sosial. Pesan tersebut disampaikan dalam Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponorogo, Jawa Timur, Sabtu (19/9/2026).

Dalam sambutannya, Prabowo meminta para santri dan santriwati tidak mudah mempercayai seluruh informasi yang mereka temui di media sosial. Ia juga mengingatkan adanya pihak yang disebutnya sebagai antek asing yang menurutnya memiliki sumber daya untuk memengaruhi ruang digital.

“Mereka punya uang, mereka bisa bayar buzzer, mereka bisa main di media sosial. Hati-hati. Jangan percaya semua yang ada di media sosial itu,” ujar Prabowo dalam sambutannya.

Pernyataan tersebut disampaikan ketika Prabowo berbicara mengenai pentingnya generasi muda memiliki pengetahuan luas dan kemampuan menyaring informasi.

Menurut Presiden, masyarakat perlu memiliki ketahanan dalam menghadapi berbagai informasi yang datang dari berbagai arah. Hal itu menjadi semakin penting seiring dengan besarnya peran media sosial dalam kehidupan sehari-hari.

Pesan untuk Generasi Muda

Dalam kesempatan tersebut, Prabowo juga menyampaikan optimisme mengenai masa depan Indonesia. Ia meminta para santri mempelajari berbagai capaian Indonesia dan mempersiapkan diri sebagai generasi yang akan melanjutkan pembangunan bangsa.

Berita Terkait

Kategori Sama

“Percaya, masa depan Indonesia baik. Masa depan Indonesia cerah,” kata Prabowo, sebagaimana diberitakan sejumlah media.

Prabowo juga menekankan pentingnya pemimpin Indonesia memiliki pengetahuan yang luas agar mampu menghadapi berbagai tantangan dan tidak mudah dibohongi.

Menurut laporan ANTARA, pesan tersebut menjadi bagian dari uraian Prabowo mengenai nilai-nilai yang penting dimiliki generasi Indonesia.

Di tengah perkembangan teknologi informasi, kemampuan membaca dan memahami informasi memang menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat.

Satu informasi dapat tersebar dengan sangat cepat melalui berbagai platform. Pada saat yang sama, informasi yang belum diperiksa kebenarannya juga dapat dengan mudah diteruskan dari satu akun ke akun lainnya.

Karena itu, pesan untuk tidak langsung mempercayai seluruh informasi di media sosial dapat dipahami sebagai ajakan agar masyarakat lebih berhati-hati dalam menerima maupun menyebarkan informasi.

Istilah “Buzzer” di Ruang Digital

Dalam pidatonya, Prabowo menggunakan istilah buzzer ketika menjelaskan pihak yang menurutnya dapat menggunakan media sosial untuk memengaruhi opini.

Istilah buzzer sendiri telah lama digunakan dalam percakapan publik untuk menggambarkan akun atau kelompok yang aktif menyebarkan pesan tertentu di media sosial. Namun, tidak setiap akun yang aktif menyampaikan suatu pendapat dapat secara otomatis disebut sebagai buzzer berbayar apalagi disebut antek asing.

Karena itu, masyarakat tetap perlu melihat konteks, sumber informasi, serta bukti yang tersedia sebelum menarik kesimpulan mengenai sebuah aktivitas di media sosial.

Peringatan tersebut menjadi semakin relevan karena masyarakat kini tidak hanya menerima informasi dari media massa, tetapi juga dari berbagai platform digital, mulai dari media sosial, kanal video, grup percakapan, hingga platform berbasis komunitas.

Menjaga Semangat dan Kemandirian Bangsa

Selain berbicara mengenai media sosial, Prabowo juga mengaitkan pesannya dengan semangat membangun Indonesia yang mandiri.

Ia menyampaikan bahwa bangsa Indonesia tidak boleh bergantung kepada bangsa lain dan harus mampu berdiri di atas kaki sendiri. Pernyataan tersebut menjadi bagian dari pesan nasionalisme yang disampaikan kepada para santri Gontor.

Kita tidak mau menjadi budak bangsa lain. Kita akan menjadi bangsa yang hebat. Kita akan berdiri di atas kaki kita sendiri,” ujar Prabowo.

Pesan mengenai kemandirian tersebut juga disebut Prabowo memiliki kaitan dengan nilai-nilai yang selama ini menjadi bagian dari pendidikan di Pondok Modern Darussalam Gontor.

ANTARA melaporkan bahwa Prabowo menilai nilai-nilai dalam Panca Jiwa Gontor—keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuwah Islamiyah, dan kebebasan—sejalan dengan semangat perjuangan membangun bangsa.

Bijak Menyikapi Informasi

Pernyataan Prabowo mengenai pihak asing dan buzzer menjadi salah satu bagian dari pesan yang disampaikannya kepada generasi muda.

Yang tidak kalah penting adalah pesan agar masyarakat memiliki kemampuan menyaring informasi.

Di tengah derasnya arus informasi digital, masyarakat dapat membandingkan informasi dari berbagai sumber, melihat konteks pemberitaan, memeriksa tanggal dan sumber asli, serta tidak terburu-buru menyebarkan informasi yang belum jelas.

Kebiasaan tersebut menjadi bagian penting dari literasi digital.

Bagi generasi muda, termasuk para santri yang kelak akan mengambil peran dalam berbagai bidang kehidupan, kemampuan menggunakan teknologi sekaligus memahami informasi secara kritis menjadi modal yang semakin penting.

Peringatan Presiden di Gontor pada akhirnya tidak hanya berbicara mengenai siapa yang berada di balik sebuah informasi, tetapi juga mengenai bagaimana masyarakat Indonesia menghadapi derasnya arus informasi di era digital.

Tidak semua yang muncul di media sosial harus dipercaya begitu saja. Namun, setiap informasi juga dapat disikapi dengan tenang, diperiksa sumbernya, dan dipahami konteksnya sebelum diteruskan kepada orang lain.

Dalam semangat itu, literasi digital dan pengetahuan yang luas menjadi bagian penting untuk membangun masyarakat yang semakin matang dalam menerima informasi sekaligus menjaga persatuan dan kemandirian bangsa.

Lensa Resonansi — Melihat Lebih Dalam, Menyuarakan Kebenaran.