LENSA RESONANSI — Pasar komoditas global bergerak volatil menjelang akhir pekan ketiga September 2026. Konflik dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi harga energi, sementara kebijakan perdagangan India memberikan sentimen berbeda terhadap pasar minyak nabati.
Di sisi lain, harga emas mengalami tekanan seiring penguatan dolar Amerika Serikat (AS). Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pasar komoditas saat ini tidak bergerak dalam satu arah, melainkan sangat bergantung pada kombinasi faktor geopolitik, kebijakan perdagangan, persediaan dan prospek suku bunga AS.
Berikut perkembangan sejumlah komoditas utama berdasarkan perdagangan hingga Jumat, 25 September 2026.
Minyak: Geopolitik Masih Menjadi Faktor Utama
Harga minyak mentah dunia sepanjang pekan ini bergerak dalam tekanan volatilitas tinggi. Ketegangan di Timur Tengah, terutama kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan dari kawasan produsen minyak, menjadi perhatian utama pelaku pasar.
Namun, data perdagangan Jumat menunjukkan bahwa harga minyak justru mengalami koreksi. Reuters melaporkan harga Brent turun sekitar 2,1 persen atau US$2,28 menjadi US$104,32 per barel. Sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) turun sekitar 2,3 persen atau US$2,20 menjadi US$92,41 per barel.
Penurunan tersebut terjadi di tengah munculnya harapan mengenai kemungkinan jalur menuju gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. Pada saat yang sama, pasar masih mencermati serangan Houthi terhadap Arab Saudi yang berpotensi mengganggu pasokan energi.
Dengan demikian, risiko geopolitik belum sepenuhnya hilang. Pasar minyak masih menghadapi dua sentimen yang berlawanan: kekhawatiran gangguan pasokan dan harapan meredanya konflik.
CPO: Kebijakan India Menjadi Sentimen Positif, tetapi Stok Malaysia Menekan
Pasar minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) juga menghadapi tarik-menarik sentimen.
India pada 24 September 2026 mengumumkan penurunan bea masuk dasar untuk sejumlah minyak nabati. Bea masuk dasar crude palm oil (CPO) dan crude soybean oil dipangkas dari 10 persen menjadi 5 persen. Pemerintah India menyebut kebijakan tersebut ditujukan untuk menekan harga minyak nabati domestik serta mengurangi tekanan inflasi.
Kebijakan tersebut secara teori dapat meningkatkan daya tarik impor minyak nabati India dan memberikan ruang permintaan bagi produsen seperti Indonesia dan Malaysia.
Namun, sentimen positif tersebut belum cukup untuk mengangkat harga CPO pada perdagangan Jumat.
Data perdagangan Bursa Malaysia Derivatives menunjukkan kontrak CPO pengiriman Desember turun 2,22 persen menjadi sekitar 4.666 ringgit Malaysia per ton hingga Jumat sore. Kontrak tersebut bahkan telah terkoreksi sekitar 4,68 persen sepanjang pekan.
Tekanan terutama berasal dari kekhawatiran meningkatnya produksi serta lemahnya ekspor yang berpotensi mendorong kenaikan persediaan di Malaysia.
Artinya, kebijakan India menjadi faktor pendukung dari sisi permintaan, tetapi pasar masih harus menghadapi persoalan fundamental berupa produksi, ekspor dan persediaan.
Bagi Indonesia sebagai salah satu produsen utama sawit dunia, perkembangan ini penting karena pergerakan CPO internasional berkaitan dengan penerimaan ekspor, harga tandan buah segar di tingkat petani, industri hilir dan penerimaan negara dari perdagangan komoditas.
Harga Referensi CPO Indonesia
Di dalam negeri, pemerintah menetapkan Harga Referensi CPO untuk September 2026 sebesar US$1.007,51 per metrik ton.
Dengan harga referensi tersebut, pemerintah menetapkan Bea Keluar CPO sebesar US$148 per metrik ton, sementara pungutan ekspor mengikuti ketentuan yang berlaku.
Perubahan harga referensi menunjukkan bahwa pasar sawit Indonesia tetap sangat berkaitan dengan dinamika harga internasional. Ketika harga global bergerak turun, tekanan dapat merambat ke rantai perdagangan domestik, meskipun dampaknya tidak selalu langsung dan besarannya dipengaruhi berbagai faktor lain.
Emas: Dolar AS Menjadi Beban
Berbeda dengan minyak dan CPO, pasar emas menghadapi tekanan dari penguatan dolar AS.
Harga emas dunia mengalami koreksi ketika indeks dolar AS menguat. Secara umum, penguatan dolar dapat membuat emas yang dihargai dalam mata uang AS menjadi relatif lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya sehingga berpotensi menekan permintaan.
MarketWatch mencatat harga emas berjangka sempat turun sekitar 0,6 persen ke US$4.352 per ons pada perdagangan Rabu, ketika indeks dolar AS mencapai level tertinggi dalam sekitar delapan pekan.
Tekanan tersebut kemudian tercermin pada harga emas domestik.
Berdasarkan laman resmi Logam Mulia, perubahan harga terakhir pada 25 September menunjukkan harga emas berada di Rp2.590.000 per gram, turun Rp15.000 dari harga terakhir sebelumnya sebesar Rp2.605.000 per gram.
Sementara itu, harga Rp2.605.000 per gram dan buyback Rp2.435.000 per gram sebelumnya tercatat pada perdagangan 24 September. Dengan demikian, pergerakan emas domestik tidak dapat dilepaskan dari kombinasi harga emas dunia dan dinamika nilai tukar dolar AS.
Tiga Komoditas, Tiga Persoalan
Pergerakan komoditas pada akhir pekan menunjukkan bahwa masing-masing pasar menghadapi persoalan yang berbeda.
Minyak terutama sensitif terhadap perkembangan geopolitik dan risiko gangguan pasokan.
CPO menghadapi tarik-menarik antara peluang meningkatnya permintaan dari India setelah penurunan bea masuk dan kekhawatiran meningkatnya stok akibat produksi serta ekspor yang belum cukup kuat.
Sementara emas menghadapi tekanan dari penguatan dolar AS dan perubahan ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat.
Situasi tersebut membuat pasar komoditas global tetap berada dalam fase penuh ketidakpastian. Perubahan satu faktor saja—misalnya perkembangan konflik Timur Tengah, kebijakan perdagangan India, data persediaan minyak sawit atau pergerakan dolar AS—dapat dengan cepat mengubah arah harga.
Bagi Indonesia, kondisi ini penting untuk dicermati karena komoditas memiliki kaitan langsung dengan ekspor, penerimaan negara, pendapatan produsen dan petani, biaya energi, hingga tekanan harga di dalam negeri.
Karena itu, membaca pergerakan harga komoditas tidak cukup hanya melihat apakah harga sedang naik atau turun. Faktor yang mendorong pergerakan tersebut perlu diperhatikan untuk melihat apakah perubahan harga bersifat sementara akibat sentimen pasar atau mulai mencerminkan perubahan fundamental.
Lensa Resonansi — melihat lebih dalam, menyuarakan kebenaran.