Lingkungan Hidup

Mengapa Kebakaran Hutan di Kalimantan Terus Terjadi? Membaca Fakta di Balik Lonjakan Hotspot 2026

2 minggu yang lalu 156 views
Gambar Mengapa Kebakaran Hutan di Kalimantan Terus Terjadi? Membaca Fakta di Balik Lonjakan Hotspot 2026 - mengapa karhutl...

TEROPONG KALIMANTAN – Kajian Jurnalistik

Setiap musim kemarau, pertanyaan yang sama kembali muncul: mengapa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan seolah tidak pernah benar-benar berhenti?

Jawaban atas pertanyaan tersebut ternyata jauh lebih kompleks dibanding sekadar menyalahkan cuaca atau musim kemarau.

Baca Juga

Rekomendasi

Data terbaru dari SiPongi Kementerian Kehutanan menunjukkan bahwa dalam pemantauan 24 jam hingga 13 Juli 2026, terdeteksi 861 hotspot di Indonesia. Dari jumlah tersebut, Kalimantan Barat menjadi provinsi dengan titik panas terbanyak mencapai 153 hotspot, disusul Sumatera Selatan (100), Kalimantan Timur (77), Kalimantan Selatan (63), dan Kalimantan Tengah (37). Data tersebut berasal dari satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA.

Namun perlu dipahami, hotspot bukan berarti kebakaran yang sudah dipastikan terjadi. Hotspot hanyalah indikasi adanya suhu permukaan yang lebih tinggi dibanding wilayah sekitarnya. Meski demikian, ketika hotspot terkonsentrasi dalam jumlah besar dan berulang pada lokasi tertentu, probabilitas adanya kebakaran aktif menjadi semakin tinggi.

Persoalannya Bukan Sekadar Musim Kemarau

Narasi yang sering berkembang di masyarakat adalah bahwa kebakaran terjadi karena musim kemarau.

Berita Terkait

Kategori Sama

Fakta ilmiah menunjukkan gambaran yang lebih luas.

BMKG memperkirakan Indonesia pada semester kedua 2026 berpotensi mengalami El Niño lemah hingga moderat yang menyebabkan musim kemarau lebih panjang, curah hujan berkurang, dan meningkatkan risiko kebakaran hutan serta lahan.

Namun berbagai penelitian terbaru justru memperlihatkan bahwa iklim hanyalah faktor pemicu, bukan penyebab utama.

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal npj Natural Hazards tahun 2026 menyimpulkan bahwa kebakaran besar di Kalimantan tetap dapat terjadi bahkan ketika El Niño tidak sedang berlangsung. El Niño memang meningkatkan peluang kebakaran sekitar 2,7 kali lipat, tetapi kondisi bentang lahan dan aktivitas manusia tetap menjadi faktor dominan.

Artinya, tanpa perubahan tata kelola lahan, risiko kebakaran akan tetap tinggi.

Gambut: Bom Waktu yang Terus Menyala

Salah satu karakteristik Kalimantan adalah keberadaan lahan gambut yang sangat luas.

Berbeda dengan kebakaran pada hutan mineral, api di lahan gambut sering kali membakar hingga ke bawah permukaan tanah.

Akibatnya:

  • api sulit dideteksi,
  • sulit dipadamkan,
  • dapat bertahan berminggu-minggu,
  • bahkan kembali muncul setelah hujan.

Drainase lahan gambut melalui pembangunan kanal membuat muka air tanah turun sehingga gambut menjadi semakin kering dan mudah terbakar. Berbagai studi menunjukkan hubungan kuat antara kepadatan kanal, kondisi tutupan lahan, dan peningkatan hotspot pada lahan gambut.

Pembukaan Lahan Masih Menjadi Persoalan

Dalam berbagai kasus yang pernah diungkap aparat penegak hukum selama bertahun-tahun, penyebab kebakaran tidak selalu berasal dari faktor alam.

Pembukaan lahan menggunakan api masih ditemukan pada sejumlah kasus, baik untuk:

  • pertanian skala kecil,
  • perkebunan,
  • maupun aktivitas ilegal lainnya.

Tidak semua kebakaran disebabkan oleh perusahaan, dan tidak semua pula berasal dari masyarakat.

Karena itu, menyederhanakan penyebab karhutla kepada satu kelompok tertentu justru berpotensi menyesatkan publik.

Fakta lapangan menunjukkan bahwa penyebab kebakaran dapat berbeda di setiap lokasi sehingga memerlukan investigasi berbasis bukti.

Mengapa Kalimantan Barat Hampir Selalu Menjadi Daerah Teratas?

Dalam beberapa musim kemarau terakhir, Kalimantan Barat hampir selalu muncul sebagai salah satu provinsi dengan jumlah hotspot tertinggi.

Fenomena ini dipengaruhi oleh kombinasi berbagai faktor, antara lain:

  • luas lahan gambut,
  • dominasi kawasan rawa,
  • musim kemarau yang panjang,
  • aktivitas manusia,
  • kondisi hidrologi gambut,
  • serta perubahan penggunaan lahan.

Karena itu, tingginya hotspot tidak otomatis menunjukkan kegagalan satu institusi tertentu.

Sebaliknya, kondisi tersebut menggambarkan kompleksitas pengelolaan bentang alam Kalimantan yang memerlukan kolaborasi lintas sektor.

Penegakan Hukum Belum Menghapus Ancaman

Pemerintah sebenarnya terus melakukan berbagai upaya.

Kementerian Kehutanan bersama BMKG, BNPB, Manggala Agni, pemerintah daerah, TNI, Polri, dan berbagai instansi telah meningkatkan patroli, operasi modifikasi cuaca, pembasahan gambut, hingga penegakan hukum.

Sepanjang 2026, pemerintah juga menerapkan pengawasan dan sanksi administratif terhadap sejumlah pemegang izin usaha kehutanan yang dinilai melanggar ketentuan terkait pencegahan kebakaran.

Meski demikian, luas wilayah Kalimantan yang mencapai lebih dari 540 ribu kilometer persegi membuat pengawasan secara menyeluruh menjadi tantangan besar.

Mengapa Kebakaran Terus Berulang?

Berdasarkan berbagai sumber terbuka, penelitian ilmiah, serta data pemerintah, terdapat sedikitnya lima faktor yang saling berkaitan:

  1. Kemarau panjang dan pengaruh El Niño meningkatkan kekeringan vegetasi.
  2. Lahan gambut yang mengering sangat mudah terbakar dan sulit dipadamkan.
  3. Perubahan tata guna lahan meningkatkan kerentanan bentang alam terhadap api.
  4. Aktivitas manusia, baik disengaja maupun karena kelalaian, masih menjadi pemicu di banyak kasus.
  5. Luas wilayah dan keterbatasan pengawasan membuat deteksi dini serta pemadaman sering terlambat.

Kelima faktor tersebut bekerja secara bersamaan, sehingga kebakaran tidak dapat dijelaskan hanya oleh satu penyebab tunggal.

Catatan Redaksi

Lonjakan hotspot di Kalimantan bukan sekadar persoalan statistik satelit.

Ia merupakan indikator bahwa ekosistem Kalimantan masih menghadapi tekanan serius akibat kombinasi faktor iklim, kondisi gambut, perubahan bentang lahan, dan aktivitas manusia.

Karena itu, pendekatan terhadap karhutla tidak cukup hanya mengandalkan pemadaman ketika api sudah muncul.

Pencegahan berbasis restorasi gambut, pengawasan penggunaan lahan, sistem peringatan dini, edukasi masyarakat, serta penegakan hukum yang konsisten menjadi fondasi utama agar siklus kebakaran yang berulang setiap musim kemarau tidak terus menjadi persoalan tahunan.

Bagi Kalimantan, keberhasilan mengendalikan kebakaran hutan bukan hanya soal menjaga tutupan hutan, tetapi juga menyangkut kesehatan masyarakat, keberlanjutan ekonomi daerah, dan komitmen Indonesia terhadap perlindungan lingkungan.

 

Tags

Karhutla Kalimantan 2026, kebakaran hutan Kalimantan, hotspot Kalimantan Barat, SiPongi KLHK, titik api Indonesia, penyebab karhutla, gambut Kalimantan, BMKG El Nino 2026, kabut asap Kalimantan, investigasi karhutla, lingkungan Kalimantan, Teropong Kalimantan, mengapa karhutla kalimantan terus terjadi, mengapa karhutla kalimantan terus terjadi