Lingkungan Hidup

Analisis: Fenomena Perigee–Bulan Baru 14 Juli 2026, Seberapa Besar Risiko Banjir di Kalimantan?

2 minggu yang lalu 76 views
Gambar Analisis: Fenomena Perigee–Bulan Baru 14 Juli 2026, Seberapa Besar Risiko Banjir di Kalimantan? - fenomena perige...

PONTIANAK – Fenomena astronomi Perigee–Bulan Baru (Super New Moon) yang diperkirakan terjadi pada 14 Juli 2026 kembali menjadi perhatian karena berpotensi meningkatkan tinggi muka air laut di sejumlah wilayah pesisir Indonesia, termasuk Kalimantan.

Namun, penting dipahami bahwa fenomena ini tidak secara langsung menyebabkan banjir daratan, melainkan meningkatkan risiko banjir pesisir (rob) ketika bertepatan dengan pasang maksimum, cuaca buruk, gelombang tinggi, atau hujan lebat. Hal ini sejalan dengan peringatan dini yang dikeluarkan BMKG fenomena perigeebulan baru kalimantan berpotensi.

Apa Itu Fenomena Perigee dan Bulan Baru?

Secara astronomi, perigee adalah kondisi ketika Bulan berada pada jarak terdekat dengan Bumi sehingga gaya gravitasinya terhadap air laut menjadi lebih kuat fenomena perigeebulan baru kalimantan berpotensi.

Sementara itu, bulan baru (new moon) terjadi ketika Matahari, Bulan, dan Bumi berada hampir segaris. Pada kondisi ini, gaya tarik gravitasi Matahari dan Bulan saling memperkuat sehingga menghasilkan spring tide atau pasang laut maksimum.

Baca Juga

Rekomendasi

Ketika kedua fenomena tersebut terjadi hampir bersamaan, BMKG menyebutnya sebagai Super New Moon, yang berpotensi meningkatkan elevasi muka air laut dibandingkan pasang normal.

Mengapa Kalimantan Perlu Waspada?

Berdasarkan peringatan dini BMKG, sejumlah wilayah pesisir Indonesia berpotensi mengalami banjir rob dalam periode 8–22 Juli 2026 akibat fenomena tersebut.

Di Kalimantan, kawasan yang memiliki karakteristik dataran rendah dan berhadapan langsung dengan Laut Natuna, Selat Karimata, Laut Jawa, serta Selat Makassar menjadi wilayah yang perlu meningkatkan kewaspadaan.

Berita Terkait

Kategori Sama

Untuk Kalimantan Barat, BMKG secara khusus mengingatkan potensi banjir rob di wilayah pesisir hingga sekitar 22 Juli 2026, terutama saat pasang tertinggi berlangsung.

Analisis : Risiko Tidak Sama di Seluruh Kalimantan

Penelusuran Redaksi Teropong Kalimantan terhadap berbagai sumber terbuka (OSINT), meliputi peringatan BMKG, data pasang surut, karakteristik topografi, dan publikasi ilmiah kebencanaan, menunjukkan bahwa risiko tidak merata di seluruh Pulau Kalimantan.

Wilayah yang relatif lebih rentan meliputi:

  • pesisir Kalimantan Barat (Pontianak, Kubu Raya, Mempawah, Sambas, Ketapang);
  • pesisir Kalimantan Selatan, terutama kawasan muara Sungai Barito;
  • pesisir Kalimantan Timur yang berhadapan dengan Selat Makassar;
  • kawasan delta, muara sungai, pelabuhan, tambak, dan permukiman pesisir dengan elevasi rendah.

Sebaliknya, wilayah pedalaman Kalimantan tidak otomatis terdampak oleh fenomena astronomi ini, kecuali jika bersamaan dengan hujan ekstrem yang menyebabkan debit sungai meningkat.

Bukan Penyebab Tunggal Banjir

Secara ilmiah, fenomena perigee dan bulan baru bukan penyebab utama banjir, melainkan salah satu faktor yang dapat memperbesar risiko.

Banjir rob umumnya terjadi ketika beberapa faktor bertemu secara bersamaan, seperti:

  • pasang laut maksimum;
  • angin kencang yang mendorong massa air ke pantai;
  • gelombang tinggi;
  • hujan dengan intensitas tinggi;
  • buruknya sistem drainase perkotaan;
  • penurunan muka tanah (land subsidence) pada wilayah tertentu.

Karena itu, meskipun fenomena astronomi dapat diprediksi jauh hari, dampaknya sangat dipengaruhi kondisi meteorologi saat kejadian berlangsung.

Dampak yang Berpotensi Terjadi

Apabila pasang maksimum bertepatan dengan cuaca buruk, beberapa dampak yang berpotensi muncul antara lain:

  • genangan di kawasan pelabuhan;
  • terendamnya jalan pesisir;
  • gangguan aktivitas bongkar muat;
  • terganggunya tambak dan perikanan;
  • masuknya air laut ke permukiman pesisir;
  • gangguan transportasi laut skala lokal.

Hingga saat ini, BMKG belum menyatakan bahwa seluruh Kalimantan akan mengalami banjir, melainkan mengeluarkan peringatan potensi banjir rob di sejumlah wilayah pesisir yang memenuhi kondisi tertentu.

Apa yang Perlu Dilakukan Masyarakat?

Berdasarkan rekomendasi BMKG, masyarakat di wilayah pesisir disarankan untuk:

  • memantau informasi pasang surut dan cuaca terbaru;
  • mengamankan kapal kecil serta aktivitas pelabuhan;
  • menghindari penyimpanan barang di lokasi yang rawan tergenang;
  • meningkatkan kewaspadaan apabila hujan lebat terjadi bersamaan dengan pasang maksimum.

Dengan demikian, fenomena Perigee–Bulan Baru 2026 sebaiknya dipandang sebagai peringatan dini untuk meningkatkan kesiapsiagaan, bukan sebagai kepastian akan terjadinya banjir. Pemantauan prakiraan cuaca, tinggi gelombang, dan pasang surut dari BMKG tetap menjadi acuan utama bagi masyarakat dan pemerintah daerah.

Kata Kunci : Perigee 2026, Bulan Baru 2026, Super New Moon, banjir rob Kalimantan, BMKG Kalimantan, banjir pesisir Kalimantan Barat, pasang laut Juli 2026, fenomena astronomi 2026, banjir rob Pontianak, potensi banjir Kalimantan.